Afwan ya akh Ibnu Alwi ... ana jawab langsung di MP antum aja, mudah2an bermanfaat buat yang lain ...
Ass. Wr. Wb. Pak saya tanya satu hal ttg shalat fajar atau shalat sunnah sebelum subuh. Ketika saya sedang bersiap-siap mengerjakan wudhu, terdengar dari kejauhan suara adzan subuh , tak lama kemudian saya juga mendengar suara qomat...............
Apakah saya masih boleh melaksanakan shalat fajar ? atau sudah gugur hukumnya?
Terima kasih
wassallam
Fierdus Batarfie (via, abuhudzaifi.multiply.com)
Jawab:
Wa ‘Alaikum Salam Wr. Bismillahirrahmanirrahim.
Jika kasusnya seperti itu, maka gugurlah hukumnya. Tidak boleh menegakkan shalat sunah, ketika sudah iqamah. Tetapi jika ‘memaksakan’ ingin melakasanakan juga, maka tetap sah, namun makruh.
Hal ini di dasarkan hadits berikut (sebenarnya haditsnya banyak, namun saya paparkan satu saja):
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia bersabda: “Jika sudah iqamat untuk shalat, maka tidak ada shalat kecuali shalat maktubah (fardhu).” (HR. Muslim, Juz. 4, Hal. 22-23, No. 1160-1161. Abu Daud, Juz, 4, Hal. 20, No. 1075. At Tirmidzi, Juz. 2, Hal. 204, No. 386)
Dalam kitab Tuhfah al Ahwadzi disebutkan:
قَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ فِيهِ مَنْعُ التَّنَفُّلِ بَعْدَ الشُّرُوعِ فِي إِقَامَةِ الصَّلَاةِ سَوَاءٌ كَانَتْ رَاتِبَةً أَمْ لَا لِأَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَكْتُوبَةِ الْمَفْرُوضَةُ ، وَزَادَ مُسْلِمُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ فِي هَذَا الْحَدِيثِ : قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ؟ قَالَ : وَلَا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ، أَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ فِي تَرْجَمَةِ يَحْيَى بْنِ نَصْرِ بْنِ حَاجِبٍ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ اِنْتَهَى . وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الشُّرُوعُ فِي النَّافِلَةِ عِنْدَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ بَيْنَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ وَغَيْرِهِمَا .
“Berkata Al Hafizh (maksudnya Imam Ibnu Hajar) dalam Al Fath, di dalamnya tedapat larangan melaksanakan shalat nafilah setelah masuk iqamah shalat, sama saja baik shalat rawatib atau bukan. Karena yang dimaksud shalat maktubah (dalam hadits) adalah shalat fardhu. Muslim bin Khalid menambahkan dari Amru bin Dinar, tentang hadits ini, diakatan: “Ya Rasulullah, apakah dua rakaat shalat fajar juga tidak boleh?” Beliau menjawab: “Tidak pula dua rakaat shalat fajar.” Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam tarjamah Yahya bin Nashr bin Hajib, sanadnya hasan. Selesai.
Hadits ini menunjukkan bahw tidak boleh melaksanakan nafilah ketika sudah iqamat shalat, tidak ada perbedaan antara dua rakaat shalat sunah fajar atau selainnya.” (Syaikh Abdurrahman al Mubarakfuri, Tuhfah al Ahwadzi, Juz. 1, Hal. 459, No. 386. Atau lihat Fathul Bari, Juz, 2, Hal. 489. Al Maktabah Asy Syamilah)
Namun larangan ini bukan berarti haram, melainkan makruh saja, sebab ada kasus lain dalam hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ دَخَلَ
رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِي جَانِبِ الْمَسْجِدِ ثُمَّ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا فُلَانُ بِأَيِّ الصَّلَاتَيْنِ اعْتَدَدْتَ أَبِصَلَاتِكَ وَحْدَكَ أَمْ بِصَلَاتِكَ مَعَنَا
Dari Abdullah bin Sarjis berkata: seorang laki-laki masuk ke mesjid, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang shalat subuh. Maka laki-laki itu shalat sendiri dua rakaat di tepi mesjid, lalu bergabung bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika Rasulullah selelesai mengucapkan salam, beliau bersabda; “Hai fulan, shalat manakah yang lebih engkau utamakan; apakah shalatmu sendiri, atau shalat bersama kami?” (HR. Muslim, Juz. 4, Hal. 26, No. 1164)
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
وفي إنكار الرسول صلى الله عليه وسلم، مع عدم أمره بإعادة ما صلي، دليل على صحة الصلاة وإن كانت مكروهة
“Pengingkaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, namun dia tidak memerintahkan untuk mengulangi shalat, menunjukkan bahwa shalatnya tetap sah, walau dibenci (makruh).” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 109. Darul Kutub al ‘Arabiyah, Beirut – Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah)
Kalau begitu, bolehkah shalat sunah fajar diqadha?
Shalat sunah fajar boleh diqadha, berdasarkan hadits berikut (sebenarnya masih ada beberapa hadits lainnya, namun saya sebut satu saja):
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang belum shalat dua rakaat fajar, maka shalatlah keduanya (sunah fajar dan subuh) sampai tebitnya matahari.” (HR. At Tirmidzi, Juz. 2, Hal, 208. Hadits ini shahih, lihat Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 5, Hal. 360, no. 2361. Al Maktabah Asy Syamilah)
Imam Asy Syaukani menulis dalam Nailul Authar sebagai berikut:
وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَاهُمَا مَعَ الْفَرِيضَةِ لَمَّا نَامَ عَنْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ
“Telah tsabit (kuat) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengqadha shalat sunah fajar bersama shalat wajib (subuh) ketika ketiduran saat fajar dalam sebuah perjalanan.”
Tentang hadits Imam at Tirmidzi di atas, beliau berkata:
وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ مَا يَدُلُّ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ فِعْلِهِمَا بَعْد صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Pada hadits ini tidak ada larangan untuk melaksanakan dua rakaat tersebut setelah shalat subuh.” (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Juz. 4, Hal. 262-263. Al Maktabah Asy Syamilah)
Hadits yang paling jelas tentang qadha shalat sunah fajar adalah riwayat tentang Qais bin Umar bahwa beliau shalat subuh di mesjid bersama Rasulullah, sedangkan dia sendiri belum mengerjakan shalat sunah fajar. Selesai shalat subuh dia erdiri lagi untuk shalat sunah dua rakaat. Nabi pun berjalan melewatinya dan bertanya:
مَا هَذِهِ الصَّلَاةُ فَأَخْبَرَهُ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَضَى وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا
“Shalat apa ini?, maka dia menceritakannya. Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diam, dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.” (HR. Ahmad, Juz. 48, hal. 272. No. 22643)
Tentang hadits di atas berkata Syaikh Sayyid Sabiq:
قال العراقي: إسناده حسن.
“Berkata al ‘Iraqi: sanadnya hasan.”
Beliau melanjutkan:
وظاهر الاحاديث أنها تقضى قبل طلوع الشمس وبعد طلوعها، سواء كان فواتها لعذر أو لغير عذر وسواء فاتت وحدها أو مع الصبح
“Secara zhahir, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mengqadha shalat sunah fajar boleh dilakukan sebelum terbit matahari atau setelahnya. Sama saja, baik terlambatnya karena adanya udzur atau selain udzur, bahkan mengqadhanya itu boleh juga baik keterlambatan shalat sunah fajar, atau juga shalat subuhnya sekaligus.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 187. Darul Kutub al ‘Arabiyah, Beirut-Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah)
Wallahu A’lam